Tags

,

Sekarang pukul 02.00 dini hari. Wajah teduh nan lembutmu terbaring menghadap ke kanan, rambut panjangmu tergerai sedikit berantakan, tanganmu terlipat di balik bantal seolah berusaha meraih jemari yang selalu kau genggam.

Sudah seribu sembilan puluh lima hari aku mengenalmu, kau ajarkan aku melihat partikel semesta dari sudut yang sederhana, memaknai kesederhanaan keindahan melalui tetes embun, bias kabut, secangkir kopi, gemerlap bintang, dan aroma hujan yang terkadang sering terlewat oleh refleksi kornea.

Memimpikanmu menghadirkan sensasi keteduhan. Bingkaian senyum diwajahmu telah mengikis lapisan senyawa pembentuk benteng hati yang telah ku bangun jauh sebelum orbit kita saling berdampingan, Lea. Jika cinta memang sistematis, pada angka berapakah ia pas ? Jika cinta memang tak terdefinisi, dengan kata apa rasa dapat terdeskripsi ?

Banyak hal yang selalu membuat kita jatuh cinta pada hidup dan kehidupan, berkali-kali untuk beragam alasan. Cinta yang barangkali datang dan pergi sesuai dengan situasi yang terus berganti. Membuahkan rangkaian potret perjalanan yang mengandung keselarasan makna. Pertemuan, interaksi, pertautan hati, saling memaknai, tak terkecuali perpisahan dan kematian.

Masih banyak waktu yang ingin ku tukar untuk merasakanmu, meneguk bercangkir-cangkir kopi, menaklukkan keindahan puncak gunung, berbaring di bawah lautan bintang, menjelajah petak-petak alam yang tak terjamah, mengagumi lukisan Tuhan. Segalanya mampu kita lakukan. Namun, jika Sang Maha Kasih benar-benar mengijinkan pertukaran waktu untukku entah dalam hitungan jam ataupun menit, aku hanya menginginkan satu hal : merengkuhmu seerat mungkin, menggenggam jemarimu, bergandengan menembus dinamika imaji yang tak terjamah oleh mereka.

Memastikan diriku masih tetap terpejam, terjaga dalam gelap. Tak terusik oleh kicau burung, kokok ayam jago, bunyi alarm, ataupun sosok mentari yang membolah sempurna dari ufuk timur. Karena saat kelopak mataku yang berat mulai terbuka, kau hanya akan melebur bersama mimpi, menjadi puing kenangan yang harusnya terlupakan. Sebuah imaji yang tak kan pernah mampu ku nyatakan.