Tags

, , ,

Aku berkenalan dengan seorang teman baru, sebut saja dia Ben. Ketika pertama kali bertemu dengannya ada sebuah kejadian sepele, kita sama-sama membawa sebotol tupperware berisi kopi. Dari sebotol tupperware berisi kopi itu hubungan pertemanan kita berlanjut intens dan baik.

Mungkin sebotol tupperware yang tak sengaja sama-sama kita bawa adalah sebuah kebetulan. Namun dari sebotol tupperware itu melahirkan sebuah hubungan persaudaraan intens yang memperbaiki kehidupan diri masing-masing. Jika kita mau menelaah lagi, tak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan. Semua hal memiliki pola dan makna implisit. Bukankah tak ada hal yang diciptakan Tuhan yang tidak bermakna dan bermanfaat ?

Kebetulan-kebetulan yang memiliki makna itu dapat kita sebut sinkronisitas. Bahkan kata “kebetulan” pun kurang efisien  karena sesungguhnya tak ada hal yang “kebetulan” atau insidental. Semua punya makna dan berinterelasi dalam sebuah maha rencana dari semesta. Sinkronisitas adalah proses dialogis, sebuah pola komunikasi dari ‘titik pangkal’ yang menghubungkan semua pikiran, perasaan, sains dan seni dalam semesta, yang kemudian terlahir ke dalam realitas ini. Itulah yang membedakan sinkronisitas dengan kebetulan biasa. Sinkronisitas menunjukkan adanya suatu makna yang kaya bahkan terhadap hal sepele sekalipun, jika kita mau mengasah kepekaan lebih tajam lagi. Menutup semua indera kita, dan belajar melihat dengan mata hati.

Realitas yang kita jalani dalam keseharian menghadirkan realitas dualistis, dimana manusia memikirkan hal-hal yang terjadi deisekitarnya dari 2 aspek.  Hitam putih, salah benar, terang gelap, dan seterusnya. Begitulah cara kerja ilmiah pikiran kita, terkadang segalanya menjadi linier, cause and effect, sebab dan akibat. Jika aku melakukan ini, maka aku akan mendapatkan itu, Aku mengalami hal ini karena dulu aku melakukan hal itu. Namun sinkronisitas menghasilkan pemikiran lain yang lebih tinggi dan luas, kehidupan semesta tak hanya berbicara dalam bahasa sebab dan akibat. Kehidupan semesta seperti lingkaran yang tak terputus dan terus berkembang, segala hal terkorelasi.

Setiap dari kita pastinya pernah mengalami sinkronisitas, betapapun remeh dan sepele kejadiannya, baik disadari atau tidak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa sinkronisitas biasanya baru terasa pada titik kritis kehidupan seseorang, yang bisa diinterpretasikan sebagai bibit perkembangan orang itu pada masa yang akan datang.Namun bagiku sinkronisitas adalah sebuah titik dimana kita dapat berbincang dengan ‘Diri’,  melepas ego dan menelaah bahwa kehidupan semesta adalah satu, terkorelasi. Sinkronisitas menghadirkan suatu sudut pandang yang memungkinkan kita untuk melihat realitas yang sama sekali lagi.Yang tentunya dapat merubah pola sikap dan perilaku kita Mungkin inilah saatnya kita beranjak dari zona nyaman pemikiran kita yang lama, menyambut sinkronisitas.