Tags

,

Meditationhealthy-happy-whole.com

Suatu hari seorang teman bercerita pada saya mengenai kegalauan hatinya. He feel so useless, karena ia merasa tak bisa melakukan apa-apa bagi hidupnya. Ia ingin bekerja tetapi kuliahnya belum selesai. Ia merasa belum bisa memberi banyak untuk keluarganya. Ia sering merasa gelisah. Kemudian ia melontarkan pertanyaan pada saya, apa yang harus saya lakukan ?

Dari pertanyaan itu saya terdiam beberapa saat, berusaha menangkap dan berempati atas apa yang ia rasakan. Saya tahu bahwa saya tak bisa memecahkan masalahnya, tapi saya tahu bahwa yang ia butuhkan saat ini adalah ketenangan hati dan sebuah keyakinan diri untuk mampu melewati rasa useless tersebut.

Saya menyarankan padanya untuk belajar bermeditasi.

“Kamu nggak pengen belajar meditasi ?”

“Meditasi ? Emang meditasi bisa nyelesaikan masalah y ?”

Dari pertanyaan itu saya menyimpulkan bahwa, kebanyakan orang beranggapan bahwa meditasi merupakan sarana problem solving. Well, itu tanggapan dan ekspetasi yang wajar bagi orang-orang yang awam tentang meditasi itu sendiri.

Bagi para pemula meditasi dilakukan untuk rileksasi, mengusir kegelisahan yang mereka rasakan menganai masalah hidup. Namun bagi orang-orang yang telah lama melakukannya, meditasi tak hanya sebagai sarana rileksasi, tetapi juga sebagai sarana pembangun ketenangan pribadi dan pencapai keseimbangan antara kebutuhan fisik dan batin.

Dari pertanyaan itu pula saya merenung dan mengingat-ingat, apa sesungguhnya manfaat terdalam dari praktek meditasi? Bagi saya meditasi bukan untuk mengurangi masalah, bahkan kadang dengan meditasi masalah justru bertambah.

Dalam perihal mental, saya sempat bangga dengan kemampuan saya untuk selalu bersikap tenang, dan terlihat ceria dalam segala situasi. Saya, yang anti-konfrontasi, bangga dengan kemampuan diplomatis yang membuat saya tampak senantiasa berkepala dingin. Tapi, setelah saya mulai bermeditasi, saya menyadari bahwa ketenangan dan keceriaan saya tidaklah otentik. Semua itu hanyalah tameng sosial yang saya pikir akan membawa saya keluar dari masalah. Kenyataannya, saya menabung setumpuk pe-er dalam batin jiwa saya. Di luar kelihatannya saya “baik-baik” tapi di dalam saya berperang hebat dengan diri saya sendiri.

Meditasi membawa saya pada medan peprangan diri. Di mana saya di hadapkan dengan peparangan dengan diri saya. Dalam meditasi saya dihadapkan pada masalah seadanya secara global, bukan hanya dari apa yang saya lihat, tahu, dan pikirkan, Namun lebih kepada segala sisi dari permasalahan yang ada, tidak kurang atau lebih. Dan ketika meditasi berlangsung saya merasa bahwa masalah saya runtuh dengan sendirinya tanpa harus saya cari solusinya di luar. Tanpa perlu kita cari, jawaban itu hadir dengan sendirinya di benak kita, seolah ada sesuatu yang membuka batin dan pikiran kita untuk melihat jauh ke dalam diri.

Masalah baru hadir ketika sebuah situasi kita bubuhkan justifikasi “tidak suka”, “sebal”, “benci”, “tidak benar”, dsb. Namun seringnya kita hanya fokus ke situasi dan mencari cara untuk mengubahnya, sementara kendali itu tidak selamanya ada di tangan kita. Inilah yang akhirnya membuat batin kita lelah, frustrasi, dan stres. Ketika kita mau menghadapi perasaan kita, menerimanya sebulat-bulatnya, atau dalam meditasi, mengamati sepenuhnya, maka situasi cuma jadi situasi saja. Netral.

Dengan meditasi saya menjadi lebih peka terhadap diri saya maupun orang lain, Meditasi membuat saya tak bisa lari dari masalah. Jika saya marah, saya akui sedang marah, jika saya sedih saya berusaha menerima dan menikmati rasa sedih yang datang, begitu juga dengan rasa senang. Tak ada lagi perasaan yang mengikat dengan diri saya, hanya mengamati kapan saat saya marah, kecewa, sedih, senang, dsb.

Kalian bisa saja mencobanya, meditasi tak harus dengan waktu yang lama. 5 menit sebelum tidur dengan konsentrasi dan fokus yang penuh dapat membantu merilekskan batin dan otak. Setiap simbol dari meditasi memiliki makna yang berbeda-beda pula. Tergantung tujuan dari meditasi kita.

Masalah hidup ini tidak berkurang, semakin lama semakin bertambah, Sungguh. Tapi ia cenderung lebih sebentar hinggap. Tidak lagi terlalu membelit dan mengikat hati kita.