Tags

Malam itu saat saya bermotor ria bersama seorang teman (dia laki-laki) dia bercerita tentang sebuah kebaikan. Oke, aku mulai singkat ceritanya, begini readers…

Saat itu malam kira-kira pukul 11.00 pm, teman saya sedang dalam perjalanan ke rumah. Di tengah perjalanan sampai ke rumah ada peristiwa tabrakan. Yang di tabrak sih nggak luka parah, tapi yang nabrak malah luka parah, darah sampai mengucur dari bibirnya. Teman saya memutuskan untuk berhenti, mengecek kondisi korban kecelakaan tersebut. Belum ada yang menolong korban, alih-alih membawa korban kritis ke Rumah Sakit terdekat.

Teman saya langsung memarkir motornya di tengah jalan, dan berusaha mencari tumpangan bagi korban untuk di bawa ke Rumah Sakit terdekat. Tak lama kemudia lewat sebuah mobil pickup, teman saya berusaha memintanya berhenti tetapi mobil itu melaju terus tanpa perduli permintaan teman saya. Selanjutnya lewat sebuah taksi, untunglah taksi tersebut mau berhenti. Teman saya langsung menghampiri korban, dan berusaha menggendongnya, nah,,,nggak mungkin dong teman saya kuat menggendong korban itu sendiri, melihat kondisi itu orang-orang yang menyaksikan hanya melihat saja, bukannya malah menolong. Akhirnya teman saya membawa korban ke dalam taksi dan meminta dua orang wanita untuk menemani korban ke rumah sakit. Teman saya mengawal taksi tersebut sampai rumah sakit dan menghubungi keluarga korban.

Nah,,dari cerita ini, muncullah sebuah pertanyaan…

“SEBEGITU MAHALNYA KAH KEBAIKAN SEKARANG INI ?”

Masa’ untuk menggendong orang yang sudah kesakitan aja nggak tergerak hatinya, atau paling tidak member kabar keluarga korban melalui telfon, mungkin nggak sampai 2000 rupiah. Sedikit merenungi di jaman sekarang ini seolah segalanya ternominalkan atau mungkin bersyarat. Sadar atau tidak saat kita berbuat kebaikan maka Tuhan akan membalas kebaikan kita, meskipun bukan dalam bentuk yang sama dan dari orang yang sama pula.

Sekarang ini apakah kita pura-pura tak perduli atau memang sengaja menutup mata pada hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita ? Terlebih lagi jika hal tersebut tak berkaitan dengan kepentingan kita. Baiklah, setiap manusia memeng egois, namun ego setiap manusia berbeda-beda kadarnya. Saya rasa tak ada salahnya kita sedikit menurunkan ego untuk belajar ber-EMPATI terhadap hal-hal yang ada di sekeliling kita. Dengan belajar berempati kita dapat mengasah kepekaan hati terhadap situasi yang terjadi pada orang lain, dan menjernihkan nurani, symbol dari kemanusiaan seorang manusia.

Jika kebaikan saja telah bersyarat, di manakah letak ketulusan yang seharusnya menjadi dasar nurani manusia untuk dapat saling berbagi dan mengisi dalam banyak hal ?

– cheyuanita –