Tags

,

Finally, semalam saya bisa nonton film BRAVE. Setelah sekian lama dibuat penasaran dengan film animasi ini. Sebelum review filmnya kita lihat trailernya lebih dulu untuk sedikit mengulang adegan di film ini.

Saya takkan banyak membahas bagaimana hebatnya Walt Disney menciptakan animasi sebaik ini, atau komentar-komentar mengenai pengisi suara yang ada dalam film ini. Namun saya akan membahas mengenai pesan moral yang menjadi pusat perhatian saya di film ini.

Yang membuat saya tertarik dengan film ini adalah setting waktu pada jaman suku Viking dan tokoh Mireda sebagai pemeran utama. Awalnya saya berfikir bahwa film ini berkisah tentang petualangan yang kental, namun ternyata inti dari film ini bukanlah petualangan. Namun lebih kepada cerita mengenai konflik dalam keluarga.

Dalam film ini imajinasi saya dimanjakan oleh lattar dari cerita yang banyak menampilkan kondisi alam. Membuat saya membayangkan, wow…it will be amazing live at that time, ketika manusia hidup berdampingan dengan alam.

Pesan moral dalam film ini sederhana namun banyak dialami oleh para anak. Kondisi di mana seorang anak diharapkan menjadi seperti orang tuanya, untuk memenuhi ego sang orang tua. Di sini Merida harus menjadi seperti yang Ibunya inginkan, sementara ia memiliki pilihan-pilihan lain yang ingin ia tentukan dalam hidupnya. Sang Ibu memaksakan apa yang ia mau terhadap anak, dan Mirenda menginginkan kebebasnnya untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, dari segala aspek hidupnya.

Sejujurnya kejadian ini mengingatkan saya pada sikap Bunda saya yang dulunya sangat overprotective terhadap saya dan tidak memberi kebebasan saya untuk memilih, maka saat saya melihat Mirenda saya merefleksi diri sendiri. Bagaimana seringnya saya bertengkar karena perbedaan pendapat atau keinginan. Hahaha..lucu juga kalau diingat.

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Dari kasus ini kita tidak bisa menyalahkan otoritas kepemilikan sang Ibu terhadap anaknya atau keegoisan sang putri. Keduanya memiliki harapan masing-masing dari sikap yang mereka buat. Setiap ibu pasti menginginkan hal yang baik bagi anaknya, tapi lantas jangan jadikan harapan atau keinginan itu menjadi belenggu dan bayang-bayang bagi anak, karena meskipun seorang anak lahir dari rahim seorang ibu bukan berarti ia menjadi miliknya dan harus menjadi sepertinya. Padahal anak memiliki hak yang sama untuk memilih takdirnya, jalan hidupnya. Hal baik atau buruk yang menimpa mereka merupakan proses pendewasaan dan pengembangan diri bagi mereka, jangan takuti mereka dengan kecemasan kalan, hei para Ibu. Bukankah nasib seseorang berada ditangannya masing-masing ?

Merida : I want my freedom!
Queen Elinor :  But are you willing to pay the price your freedom will cost?

Mom, stop memaksakan apa yang kalian mau pada putri kalian. Mereka bukan boneka atau robot yang bisa kalian setir untuk melakukan apa yang kalian inginkan. Beri mereka kebebasan untuk memilih dan belajarlah untuk mendengar dari hati dengan empati. Dengan begitu Ibu ataupun anak dapat saling memahami dalam toleransi. Beri anak-anak kebebasan untuk memilih dan berjalan pada arah yang telah mereka pilih.

Dari skala 1 – 10 saya akan member nilai 8 untuk film ini. Jadi untuk para Ibu dan keluarga yang mau nonton atau udah nonton bisa saling merefleksi diri. Enjoy watching this film guys.😉

– cheyuanita –