Tags

LEA

Jalanan ini dipagari oleh lampu yang meredup, sedikit licin karena guyuran hujan yang baru saja mereda. Kendaraan yang melintas tidak terlalu padat, Cukup nyaman dilalui oleh motor yang di kendarai Ben dan aku.

“yuhuuu…..!!!” aku selalu senang meluapkan asa dalam keramaian lalu lintas saat melakukan perjalanan, dan Ben tak pernah permasalahkan hobi anehku ini.

“Haha..kamu bisa berteriak sekencang yang kamu inginkan Lea” sesekali Ben menoleh ke arahku, memastikan perkataannya cukup terdengar olehku.

“No! ini cukup untukku Ben, sensasinya selalu melegakan”

Setelah aku dan Ben sampai dibukit bintang. Hamparan rumput membentang, tak ada batas dengan langit seperti menyatukan bumi dan langit. Ada sebuah pohon yang tumbuh tepat di atas bukit ini. Pohon dengan daun yang rimbun, jika matahari bersinar cukup terik daun lebatnya mampu memayungi separuh dari padang rumput di bukit ini. Jika malam mulai menggantung merebahkan badan di bawah pohon ini menghadirkan rasa teduh ditemani tarian kunang-kunang. Seperti mala ini, aku dan Ben merebahkan tubuh di atas rumput, memandang langit yang setengah muram.

“Coba lihat, langit begitu hitam. Dari kejauhan kita bias melihat bumi dan langit manyatu. Hebat kan?”

“Yah..tapi sayang malam mini bintang tak muncul, Ben”

“Mereka selalu mucul di tempat yang sama Lea, hanya saja cahaya bulan mengalahkan keindahan sinar mereka”

Ben seorang lelaki dengan tinggi 178 cm, kulit kuning kecoklatan, mata yang sedikit sipit, badan yang tegap, dan sorot mata yang tajam. Ia selalu mampu menjelaskan banyak hal padaku, hal-hal yang tak pernah ku pikirkan dan terdengar irasional. Dua tahun sudah aku mengenalnya, empatinya yang tinggi berhasil meruntuhkan altar egoku.

“Kau tau kan Ben, kalau bukit ini selalu menenangkan untukku. Di sini imagine dan hatiku dapat menari dengan bebas bersama bintang. Boleh kita tinggal beberapa menit lagi, Ben?”

Ben hanya mengangguk dan menggenggam tanganku, merapatkan kepalaku dalam bahu bidangnya. Kami diam, terhanyut ke dalam ritual keterkaitan hati. Hanya nyanyian jangkrik yang terdengar. Hawa dingin mulai meresap dalam pori-pori kulit. Setelah 30 menit berlalu, kami beranjak pergi.

›

BEN

Perjalanan pulang ini terasa begitu lama. Kunikmati ini sebagai sisa-sisa waktu yang ku curi dari Tuhan untuk merasakan kehadiran Lea. Lea mendekapku erat di atas motor yang ku kendarai, seolah merasakan apa yang kupikirkan, sudah tak banyak waktu lagi untuk saling bercerita, menghitung bintang, melahap makanan dalam satu piring, meneguk secangkir kopi, dan mengukur panjangnya perjalanan dari kota-kota yang kita singgahi.

Lea, genap dua tahun sudah aku mengenalnya, seorang wanita 21 tahun yang selalu memiliki senyuman tulus pada siapapun, keceriaan yang ia bawa mampu merubah atmosfer menjadi lebih hangat, dan ketulusannya dalam mengasihi telah berhasil merenggut topeng keangkuhanku.

“Ben, apa harapanmu pada Tuhan?” pertanyaan Lea yang tiba-tiba membuatku terhenyak dari lamunan.

“Hmm…harapan? Harapanku adalah kamu Lea” menyesakkan mengatakan ini.

“Lantas, jika Tuhan tak menganugerahkan harapan itu kepadamu?”

Maaf Lea, aku tak mampu menjawabnya dengan kata, karena sejujurnya hati kita telah faham apa jawaban dari pertanyaan ini. Well, pertanyaan ini selalu bisa membuat kita terdiam. Kembali dalam dunia aku dan kamu tanpa kita diantaranya, menciptakan sebuah ruang hening. Ruang hening yang membawa kita sampai di peraduan masing-masing.

LEA

Sudah lebih dari 2 minggu aku tak dapat menemukan Ben. Selalu terdengar nada “tut..tut..tut…” tanpa jawaban dari ponselnya. Aku merasa malam itu akan menjadi malam terakhir antara aku dan Ben. Menciptakan dunia kita, di mana rasa dapat saling bercengkerama tanpa harus terikat norma, agama, ataupun strata sosial. Dunia dimana selalu ada Tuhan dengan esensi yang sama bagi kita. Tuhan yang selalu mengajarkan kebaikan, penuh cinta, adil, dan mengasihi ciptaanNya. Bukan lagi El, Allah, Sang Hyang Widhi, YHWH, Allah yang berbeda di mata mereka.

“Tuhan, mengapa Kau ciptakan perbedaan jika Kau hanya mampu disembah dengan satu cara?”

Apakah karena cinta? Satu kata sakral yang mampu mengaitkan elemen hati, melengkapi perbedaan dan menjadikannya sempurna. Cinta yang melumpuhkan ego ku, kau, dia, mereka hanya untuk menyambut satu kata “bahagia” ?

BEN

With or without you

With or without you

I can’t live

With or without you

Nada panggil ponselku berbunyi. Ku tahu itu pasti kamu, Lea. Maafkan aku, kita harus mengakhiri petualangan ini. Kita tahu ini sejak awal nasib mempertemukan kita. Kau dengan Allah dan aku dengan Sang Hyang Widhi.

Apakah ini suatu kebetulan ? Aku rasa tidak Lea, segala yang terjadi diantara aku, kamu, ataupun mereka bukanlah kebetulan atau insidental, semua bermakna berinterelasi dalam satu maha rencana. Sebuah sinkronisitas, proses dialogis sebuah pola komunikasi dari akar yang menghubungkan semua pikiran, perasaan, sains, seni, dalam rahim semesta yang dilahirkan dalam realitas.

Aku meyakinimu menjadi milikku dan telah ku asah keyakinanku semakin tajam. Namun, realitas yang tak ramah ini perlahan mengikisnya. Tekadku telah mengerdil termakan oleh pembeda di antara kita dan aku tak sanggup merenggutmu dari keyakinan akan Tuhanmu.

Lea, kita tahu cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, bukan hanya hal yang tumbuh secara alami. Dan pada persimpangan perantauan hati ini kita terhenti, tak kuasa memompa keyakinan keterikatan. Banyak hal yang tak mampu kita paksakan namun layak diberi kesempatan. Kesempatan kita untuk menempuh persimpangan baru, masih tetap berliku dengan hambatan yang berbeda.

Mungkin mencintaimu adalah sebuah kesalahan, kesalahan berlapis yang ku syukuri dan ku nikmati. Lea, pada akhirnya kau harus menempuh persimpanganmu, menapakkan kembali langkahmu, entah bersama sejarah ataukah angan masa depan ?

LEA

27 Januari. Dua puluh tujuh hari sudah ku lewatkan perjalanan tanpa bayang-bayang hadirmu. Perjalanan di persimpangan baru yang ku tapak dengan sedikit tertatih, menutup perih hati yang kau tinggalkan.

Secangkir kopi menemaniku pagi ini. Pahit namun menguatkan, seperti rasa kita. Karena bagiku, mencintaimu adalah sebuah kesalahan sempurna yang mengakar pada pertumbuhan hati.

Selamat pagi untukmu Ben, entah di persimpangan mana sekarang kau menapak ?

– cheyuanita-