Tags

,

1655725(c) maroz.com.ua

20.00 WIB

            “Pya, jangan pergi dulu!”

            “Sorry Jean, I have to go. I’ve to do something.”

            “Tapi kamu kan pemilik pesta kecil ini. Stay here, please, Pya. Pyaa!”

            Aku berlari kecil menuju pintu keluar sambil melambaikan tangan. Mengabaikan panggilan dari Jean dan menghampiri Jazz hitam yang terparkir di depan lobi utama.             Aku melepaskan heel berwarna hitam dan menggantinya dengan boot berwarna cokelat yang sudah kusiapkan di kursi belakang mobilku. Tak lupa aku memakai jaket kulit yang kutaruh seadanya di tas. Bunyi mesin menderu setelah kuputar kunci pada posisi on. Mobil yang kukendarai pun melaju dengan kecepatan 80km/jam menyusuri keramaian kota yang cukup padat.

            Maaf Jean, aku harus pergi. Sudah lebih dari seminggu dia tak menampakkan sosoknya di balik balkon kamarku. Tak lagi ada kerling harap yang ia beri saat kesendirian memelukku. Tak lagi ada sapa temaram saat aku berbincang bersama buku dengan teman secangkir kopi. Tak lagi ada obat penenang yang mampu meredakan gundahku. Ia adalah satu-satunya penawar bagi rasa hampa.                       

            Menyusuri jalanan kota sendirian membuat anganku menerawang. Mengenang kembali luka yang menyisakan hampa dalam hati. Rasa hampa itu diciptakan dengan sempurna oleh Dipa di dasar hati. Dipa yang telah pergi tanpa permisi. Meninggalkan seribu tanya dalam hati.

            Apakah aku kurang perhatian?

            Apakah aku kurang cantik?

            Apakah aku terlalu acuh?

            Apakah rasa sayangku tak cukup untuknya?

            Apakah aku kurang memahami perasaannya?

            Dan sederet kalimat tanya berawalan apakah lainnya pun berkecamuk dalam benakku. Sudah hampir dua bulan sejak kepergian Dipa yang tiba-tiba. Aku berusaha meneleponnya, mengirim pesan lewat facebook, twitter atau ke nomor ponselnya. Tetapi semua hasilnya nihil. Aku hanya bisa belajar menerima kepergiannya. Merelakan Dipa tak lagi menjadi tokoh utama dalam drama hidupku.

            “Ah, sudahlah Pya! Meratapi Dipa hanya akan membuat lukamu semakin menganga. Lebih baik fokuskan dirimu mengemudi.” Logikaku berkata dengan sebal, berusaha mengusir kegalauan yang telah muncul.

            “Oke, baiklah! Aku akan fokus pada kemudi dan jalanan yang akan membawaku kepadanya.”

            Intuisiku mendorongku untuk mencarinya di sana. Tempat yang tak banyak terjamah manusia. Dia memerlukan waktu puluhan juta tahun untuk menampakkan sosoknya padaku. Dia harus melelalui proses konglomerasi individual antara debu dan globula blok dengan massa 50 kali matahari, untuk menghasilkan kesetimbangan hidrostatik. Keutuhannya yang terbentuk memerlukan berpuluh juta tahun untuk mencapai temperatur 10 juta Kelvin dan menghasilkan reaksi termonuklir. Reaksi inilah yang kemudian melahirkan sosoknya yang cemerlang sempurna.

            “Oh, God… How gorgeous are you!”

            Jalanan yang kutempuh semakin menanjak dan berliku. Tak ada lagi gedung yang berjajar di pinggir jalan. Keramaian kota mulai tergantikan padang ilalang dengan iringan suara jangkrik. Malam terasa semakin pekat, gemerlap lampu kota tergantikan cahaya kunang-kunang yang menari lincah. Bukit itu sudah mulai terlihat, tidak terlalu tinggi di tengah-tengah hamparan ilalang.

            Akhirnya aku sampai, aku melangkahkan kaki keluar dari mobil, berdiri di atas rumput yang setengah basah karena embun. Sepoi angin dan nyanyian jangkrik menyambut kehadiranku. Aku melihatnya, jauh berpijar cemerlang di sana. Berkelip kuning kemerahan, kami saling beradu pandang.  Rasa damai seketika menjalar dalam tubuhku. Hai, penwar rasa hampaku, Proxima Centauri.

@coffeestory November 2012 – 2013