Tags

, ,

StyledshootformagazineYou__peterandveronika_60_low-590x393
rusticweddingchic.com

Menikah….

Satu kata yang mampu merubah kehidupan seorang perempuan sekaligus menjadi penentu kebahagian yang selama ini perempuan idamkan.

Mengapa demikian? Mungkin karena sedari kecil perempuan sudah dihadapkan pada dongeng dengan tokoh seorang perempuan dan pangeran tampan, kemudian mereka  hidup bahagia selamanya (kebanyakan ending ini adalah adegan dimana sang pangeran menikah dengan seorang puteri). Menikah adalah suatu hal yang indah. semua tau ini. Dan semua wanita mengharapkan ini. Tetapi pada kenyataannya menikah bukan semata-mata alasan kita menjadi bahagia, ditambah lagi menikah itu tak pernah mudah.

Sedikit flash back, dalam kamus saya awalnya pemikiran untuk menikah sama sekali tidak ada. Bagi saya, jika seorang perempuan itu mampu menghandle sendiri segala aspek kehidupan yang dia jalani, buat apa menikah?

Saya beranggapan bahwa Tak ada harga pasti untuk sebuah kesetiaan sekarang ini. lelaki bisa dengan mudah mengabaikan ikrar yg telah mereka ukir dihadapan Tuhan, Jika orang yang menikah saja mempu bercerai, apalagi yang masih pacaran, pasti jauh lebih mudah untuk pisah.

Well, mengapa saya bisa berpikiran seperti ini? Sejujurnya, saya memiliki seidkit luka mengenai makna dan perjalanan sebuah pernikahan *yang ini biar masuk di kotak pandora saja* :))
Bisa dibilang saya orang yang apatis tentang pernikahan, tetapi…. persimpangan-persimpangan yang telah saya lalui dalam liku kehidupan perlahan membuat saya menyadari bahwa pada dasarnya dihati kecil masing-masing insan ada harapan untuk menikah, suatu hari nanti. Tidak terkecuali saya.

Saya percaya, bahwa orang yang tepat untuk menikah dengan kita itu sudah dihadirkan oleh Tuhan, hanya butuh waktu untuk saling menemukan. Ya, harus saling menemukan…karena jodoh hanya akan menjadi jodoh bila ia tak jua disambut oleh usaha untuk mendapatkannya. Baik itu usaha kita sebagai selayaknya seorang perempuan, atau usaha dia, sebagai seorang lelaki.

“Kapan kamu merasa siap untuk menikah ?”

Jika ada yang bertanya seperti ini kepada saya, maka saya akan menjawab …

“saat saya telah menemukan orang yang layak saya cintai dan merasa bahwa dengannya saya mampu mewujudkan mimpi bersama”

Kenapa saya katakan “layak” karena dia sudah pasti mencintai saya dan mampu menjadi partner hidup bagi saya. Begitu juga sebaliknya. Namun demikian, kadar kelayakan bagi masing-masing perempuan itu pastinya berbeda. Layak bagi saya belum tentu layak bagi permpuan lain.

Dan saat kontrak seumur hidup itu telah siap saya dan partner hidup saya tanda tangani, maka ada tanggung jawab dan komitmen besar yang harus kita jalankan dengan Tuhan sebagai saksinya. Bukan lagi cerita tentang aku, bukan lagi cerita tentang kamu, tetapi….semua akan menjadi cerita tentang KITA.

Last sentence about wedding…

Bagi saya, bahagia itu sederhana, ketika kita mampu menikah dengan orang yang layak kita cintai dengan segala keterbatasan yang ada🙂