Tags

, , ,

berbicara tentang pernikahan tak bisa dilepaskan dengan “modal nikah”. Menikah identik dengan biaya yang “mahal”. Orang di Indonesia sudah memiliki perspektif bahwa menikah butuh biaya yang banyak. Biaya untuk undangan, katering, baju pengantik, make up, dan serentetean biaya lain yang jika ditotal bisa digunakan untuk modal usaha ataupun biaya S2 :p Begitulah budaya menikah di Indoensia, butuh modal besar untuk melayani tamu. Tak jarang orang rela berhutang untuk menjalankan sebuah resepsi.

Sejak dulu aku sudah memiliki pernikahan impian, Bukankah memang setiap wanita memiliki pernikahan impiannya sendiri? well, pernikahan impianku sederhana. Berbekal dari suka dengan hal-hal simple yang tidak rumit aku menyukai pernikahan Western Style, pernikahan ala barat yang biasanya ada di film-film romantis. Di mana mempelai wanita memakai baju putih dengan model sederhana tetapi tetap anggun. Rambut disanggul simple dangan make up senatural mungkin. Untuk acara pernikahan aku hanya ingin mengundang orang-orang terdekatku, yang selama ini benar-benar bisa kuajak untuk berbagi duka dan bahagia. Seperti halnya di barat, biasanya acara pernikahan dilakukan di gereja, kemudian makan atau pesta halaman rumah sendiri bersama orang-orang terdekat. Akupun juga ingin seperti itu, setelah melakukan akad nikah, resepsi tak perlu mengundang orang banyak tetapi hanya teman-teman dekat, kita bisa makan, saling bercerita dan foto-foto bersama. Sederhana tetapi bermakna. Kira-kira seperti inilah gambaran wedding impianku😀

rusticweddingideas1ceremony_site

source : http://www.weddingchicks.com/2012/09/27/vintage-garden-peach-wedding-ideas/

Tapi….semua impian ini musnah ketika dihadapkan pada realita budaya pernikahan di Indonesia. Memang yang akan menikah aku dan pasanganku, tetapi kami memiliki keluarga yang juga ikut andil dalam pernikahan ini. dan nyatanya menyatukan antara keinginan kami dan dua keluarga itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika keluarga masing-masing masih kental dengan budaya yang ada.

Belum lagi jika ada gengsi “nanti kata tetangga gini, nanti kalau nggak ngundang itu jadi bahan omongan, nanti kelurga jadi dimusuhi temen atau tetangga” eerrr….suka gerah juga dengan statement ini. Ada saat kita harus mengikuti dan mendengarkan apa kata orang, ada kalanya kita hanya cukup mendengar kemudian mengabaikan. Atas nama gengsi nikah menjadi MAHAL. Bukan lagi makna nikah yang diutamakan tetapi sederet kepentingan resepsi yang menelan biaya puluhan juta. Akupun mulai memahami dan sangat menyetujui pernyataan “Bukan nikahnya yang mahal, tetapi gengsinya!”

Karena sesungguhnya bukan hanya nikahnya yang penting, tp jauh lebih penting bagaimana kita menjalani hidup setelah menikah🙂