Tags

header-akarpikiran1(c) iitsibarani.wordpress.com

Jika dulu berkenalan diharuskan untuk bertatap muka, mungkin aku tak pernah sanggup berkenalan denganmu. Begaimana dengan sekarang? Apakah aku telah sanggup berkenalan denganmu wahai perempuan berakar pikiran?

Aku rasa belum.

Rangkaian katamu menghantar secercah sinar mentari bagi wajah ceritaku yang sedang muram. Setelah sekian lama ceritaku mati rasa. Saat itulah kau hadir dalam bentuk aksara. Mengubah hampa menjadi bahagia.

Kepada perempuan berakar pikiran,

Aku hanya sebagian kecil dari ribuan pembaca setiamu. Mulanya mataku mengagumi paras ayumu, kemudian setelah kuselami kau lebih dalam, rasaku jatuh cinta pada aksaramu. Entah dari mana kau mampu meracik aksara menjadi rangkaian kata yang menggetarkan, yang kutahu tiap rangkaian katamu tak pernah absen dalam daftar rinduku. Rindu pada peramu aksara yang kaya akan metafora kata dan mampu mengetuk kerasnya jiwa. Di negeri tercinta ini aku begitu mencintai Dee, Djenar, dan Ayu. Mungkin kali ini mereka harus rela, bahwa cintaku pada mereka yang begitu besar harus kubagi sedikit untukmu.

Wahai perempuan berakar pikiran,

Dengan kerendahan hati aku meminta, bisakah kita berkenalan untuk mengawali sebuah pertemanan? Jika sekarang adalah satu-satunya waktu kita diijinkan untuk saling berbincang, hanya satu pesan yang ingin kusampaikan: Ijinkan aku membaca kisahmu dalam sebuah buku di suatu waktu.

Teras Singgahku – Malang, 4 Feb’ ’13

– cheyuanita