Tags

kopi-pagi

Aku percaya setiap kita pasti memiliki imaji. Imaji yang terkadang tertuang dalam sebuah cerita, prosa atau lukisan. Imaji juga mempu menjelma menjadi sebuah harapan yang selalu kita impikan menjadi kenyataan.

Bagiku, cerita atau prosa adalah anak yang lahir dari sebuah imaji. Namun sayang tak selamanya imaji itu mudah diproduksi. Kadang imaji mampu menjelma menjadi ilusi yang hanya kita ingini. Itulah mengapa aku mencintai kopi.

Kepada kopi yang tak pernah absen kuseduh setiap pagi,

Aku ingin kau baca surat ini, jikalau itu tak mungkin setidaknya kuyakin kau mampu merasa. Aku selalu suka aroma sedapmu yang menenangkan. Aroma ketika serbuk-serbuk coklat pekatmu merintih dalam sembilan puluh enam derajat celcius panas air. Saat panas air membuatmu merintih, saat itulah kau berubah menjadi minuman coklat pekat yang nikmat. Aku mampu menegukmu bercengkir-cangkir setiap hari. Kau adalah candu bagiku.

Science membuktikan kopi mampu meningkatkan produktifitas dalam pekerja, sementara kedokteran mengatakan kopi tak baik bagi jantung dan lambung. Aku tak perduli keduanya, yang kutahu saat imaji mulai sulit untuk diproduksi, menyeduhmu adalah satu-satunya cara yang mampu merangsang hasrat imaji. Saat imaji mulai mati, menegukmu adalah satu-satunya cara penawar frustasi.

Kepada kopi yang membuat imaji tak pernah mati,

Saat tiba masa aku tak mampu menegukmu lagi, beri aku waktu hanya untuk menghirup aromamu dikala pagi.

Tertanda,

Pecandu yang tak lagi mampu meneguk secangkir kopi.