Tags

Jogjakarta

“Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi

Saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama

Suasana Jogja”

Lagu ini tak pernah bosan kudendangkan atau sekedar kudengarkan. Entah saat ramai atau saat sunyi mulai menghampiri.

Hai Jogja,

Tempat yang selalu membuatku ingin kembali, nikmati indahnya panorama kota tua. Tiap sudutmu selalu menyambutkuu dengan ramah, sapa kaki lima, alunan musik musisi jalanan, dan denting bel tukang becak. JIka kau memintaku kembali ke kotamu, detik itu juga aku akan dengan senang hati mengemas ransel dan kamera untuk terbang menemuimui. Sayang, realita tak selalu ramah dengan keinginan. Ada hal-hal yang tak mampu kutinggalkan di sini, Membuatku tak bisa setiap saat menjengukmu meski hatiku teramat rindu.

Sejak kecil aku tumbuh bersama melankolimu. Itulah mengapa lahir sebuah mimpi dimana aku ingin bisa menetap Jogja. Umurku delapan belas waktu itu, mimpi yang kudamba sudah di depan mata. Ya, aku akan menetap di Jogja. Sayang seribu sayang, mimpi yang satu-satunya kuingini sejak dini harus sirna termakan realita. Restu untuk menetap dikotamu tak kudapatkan dari Ibu. Malang – Jogjakarta, Ibu tak ingin putri semata wayangnya ini melupa untuk pulang karena terlalu cinta denganmu.

Kepada Jogja, kota yang telah menjadi belahan jiwa.

Kau pernah menjadi saksi sebuah hati telah tersakiti, pun demikian kaulah yang mengembalikan serpihan hati utuh kembali. Kaulah saksi bisu sebuah hati yang mati mampu mencintai kembali. Andai kau bisa membaca surat ini entah dengan cara atau bahasa apa, kuingin kau tahu akulah wanita yang tak lelah menuliskanmu dalam sebuah cerita.

Tertanda,

Perempuan yang tak lagi bisa bebas menyapamu sewaktu-waktu

Teras Singgahku – Malang