Tags

pesan-sang-senja

Senja ialah wajah langit yang sedang merona. Merona karena petang akan segera datang mencumbu siang. Sayang bagiku senja bukanlah potret rona bahagia, melainkan potret rona luka yang kian hari kian menganga.

Seperti hari-hari sebelumnya, kau tak pernah alpha duduk termenung di bebatuan pantai ini. Kupandangi wajahmu yang muram. Matamu tampak semakin kelam, pertanda masih menyimpan kesedihan. Kemudian perlahan butir-butir air mata jatuh membasahi pipimu. Kau mulai terisak, membuat dadaku makin sesak.

Kekasih, andai kau bisa membaca pesan ini. Pesan yang kusampaikan pada wajah senja. Pesan yang kuharap tak lagi membuatmu menanti dalam sendiri. Entah dengan cara dan bahasa apa pesan ini mampu kusampaikan. Bahasa yang kutahu hanyalah bahasa rasa. Kupandang parasmu tanpa perlu menatap. Kudengar isak tangismu tanpa perlu terlinga. Aku selalu ada tanpa perlu raga. Sayangnya aku hanya mampu mencintaimu dalam bisikan, seperti deru sepoi angin yang menggetarkan dedaunan.

Kekasih, kuharap pesan ini lekas tiba, saat awan mulai melukis rona merah di langit, akulah senja yang memandangmu lekat. Akulah petang yang bercumbu dengan siang, tak pernah alpha dampingimu dalam tangisan.

Maafkan aku yang memilih pergi, sebab Tuhan telah merenggut nyawaku tanpa permisi.”

 

Kepada kita yang pernah ditinggalkan, Kenangan adalah sebaik-baik hadiah bagi kita yang telah ditinggalkan.

 

Tertanda,

Perempuan yang pernah ditinggalkan