Tags

6656890071155707082owBtvZc(c) indulgy.com

Maaf…

Mungkin kata itu masih kurang layak meski telah terucap beribu-ribu kali dari bibirku, kepada sosok wanita paruh baya berkulit putih, berwajah ceria dengan senyum yang selalu terbingkai diparas ayunya. Wanita yang tak pernah memiliki cukup waktu untuk dirinya, karena besarnya kasih yang ia beri untukku. Wanita itu adalah… Ibu.

 ***

Juni, Malang

Selama 2 bulan ini Eric ditugaskan di Manado, menggantikan kepala cabang di sana. Saat itu bertepatan dengan hari liburku. Ia memberiku tiket pulang pergi untuk berlibur di sana. Disamping aku suka travelling, tujuanku ke Manado adalah membicarakan hal penting yang menentukan masa depanku dengan Eric.

Pagi itu aku memberanikan diri untuk mengatakan tentang rencana kepergianku pada Ibu. Mendapat hadiah tiket liburan dari lomba menulis kugunakan sebagai alasan kepergianku ke Manado. Aku menduga Ibu akan susah untuk mengijinkan, aku tahu bahwa Ibu tipikal orang yang berat untuk melepaskan anak perempuannya sendiri ke tempat yang jauh. Wajar, karena aku anak semata wayang dan saat melahirkanku dulu kondisi Ibu sangat kritis. Namun ternyata untuk kali ini aku mendapatkan ijin Ibu dengan mudah. It’s unpredictable!

 ***

Juli, Manado

Hari pertama dan kedua di sini kuhabiskan dengan menyusuri keindahan kota beserta wisata alamnya yang menajubkan. Menjamah Bunaken, menikmati senja di Boulevard, dan mencoba makanan khas Manado. Banyak inspirasi saling berebut untuk dapat bersemayam dalam rumah imajiku. Rasa bahagia itu tak terdeskripsikan. Eric, ia selalu bisa membuatku sebahagia ini. Namun sejak hari pertama kehadiranku disini, aku merasa ada yang janggal darinya. Raganya bersamaku, tetapi tidak dengan jiwanya.

Ini adalah malam terakhir yang akan kuhabiskan di Manado. Aku makan malam besama Eric di Boulevard. Berbekal rasa penasaran kuberanikan diri untuk membuka BB miliknya, saat Eric sedang pergi ke toilet. Entah mengapa aku sama sekali tak tertarik untuk membuka isi kontak atau percakapan di BBM-nya. Pusat perhatianku tertuju pada gallery, karena aku ingin tahu foto apa saja yang ia simpan selama ini.

Ada yang menarik, folder dengan nama romantic rhapsody. “What is that ?” Hasratku dipenuhi rasa penasaran. Begitu kubuka isinya, seketika itu juga hatiku kelu sekaligus pilu. Hampir seluruh isinya adalah foto-foto Eric bersama Mey, mantan kekasihnya. Bukan foto-foto biasa, melainkan foto saat mereka beradu nafsu diatas ranjang.

“Apa makna dari Romantic Rhapsody ini ?” Aku bertanya pada Eric dengan wajah merah padam.

“Oh…aku memang masih berhubungan dengan Mey. Tak ada salahnya kan berhubungan baik dengan mantan pacar.”

Aku tahu dia berusaha mengelak, mencari alasan untuk menutupi kesalahan diri. Aku hanya diam, menunggu jawaban yang pantas kudengarkan.

“Jadi?” Masih dengan nada datar, menahan amarah.

“Kamu dengan Mey adalah orang yang berbeda, aku tak pernah membandingkan kalian berdua. Aku tak pernah memberi komitmen apapun denganmu atau Mey. Aku hanya menjalankan apa yang harus ku jalankan.”

“BAH..!!! Menjalankan apa? Mencari kenikmatan dari dua perempuan sekaligus?” Eric hanya terdiam, tak ada keberanian menatap wajahku.

“Cukup Eric! Kalau selama ini hubungan yang kau ingin seperti ini. Sudah saatnya aku harus pergi.”

Kalut, dadaku sesak, dan seketika itu pula yakinku padanya runtuh. Roda kenyataan tak berjalan sesuai dengan harapan. Keraguan Ibu padanya selama ini terbuktikan oleh realitas yang dihadapkan Tuhan pada diriku. Jika selama ini aku meyakini jika dia adalah yang terbaik, ternyata aku salah.

 ***

Juli, Malang

Kepada wanita yang telah memberiku kehidupan, Ibu. Kuucap maaf untuk tak banyak mendengarmu tentang keraguanmu terhadap lelaki yang kucintai. Maaf untuk benci yang terkadang muncul saat kau meragukan lelaki pilihanku. Maaf untuk kata pedas yang terucap saat perdebatan-perdebatan  kita. Maaf untuk banyaknya kebohongan yang kubuat padamu demi Eric. Maaf untuk air mata yang sering membasahi kedua kelopak matamu karena luka hati yang telah kubuat. Yang terberat dan terbesar, maaf…maaf…maaf… untuk pernah mengesampingkanmu untuk lelaki yang sesungguhnya tak layak untuk masa depanku.

Ibu, kutahu air mataku tak akan mampu menebus segalanya. Namun yang kutahu, tak ada kebesaran hati yang mampu mengalahkan kebesaran hatimu untuk selalu memaafkan kesalahan putrimu dan akan selalu memberi pelukan hangat untuk air mata kepedihan yang tak sanggup ia bendung.

 

Kepada kita yang seringnya lebih memilih lelaki dibanding Ibu sendiri,

Satu-satunya wanita yang penuh cinta namun sering kita lupa cintanya adalah Ibu.

 

Tertanda,

Putrimu, yang tak cukup kasih untuk membalas bejana kasih sayangmu..