Tags

PicsArt_1392112929544

Tinggal lima orang yang tersisa, dan dia adalah satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu-satunya perempuan yang hadir diantara lelaki. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan sebagai pusat perhatian. Namun mereka malas memperhatikan, karena sejak tadi kujuga tak berniat memulai perkenalan. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dia yang bukan hanya sebatas objek menarik, melainkan sebuah makhluk yang membuat lensa ini tak pernah berhenti membidik.

Tak pernah ada ajakan untuk terbang darinya, hanya ada senyum ramah saat kita tak sengaja saling berpapasan. Ada keengganan darinya untuk memulai perkenalan. Itulah mengapa ia berusaha menyapaku lewat senyum dibalik lensa.

Bendera penanda angin melambai gemulai, pertanda semesta merestui mereka untuk terbang. Dia bersorak riang sembari membentangkan parasutnya. Mentari menyapa lebih manis, teriknya tersamarkan oleh awan yang saling bergandengan. Menyatu biru bersama langit sore.

 

1 . . . 2 . . . 3 . . . HUP!

Dia melompat ke angkasa, meninggalkan pijakan kakinya dari bumi.

 

Hai laki-laki penerbang,

Bagaimana rasanya menikmati udara bebas di atas sana?

Bagaimana rasanya melihat bumi dari sisi yang berbeda?

Sedari kecil kita tak pernah lepas dari keinginan untuk terbang. Seperti burung yang melayang-layang di angkasa. Merasakan desiran angin yang menerpa kulit dalam kesunyian. Hanya kita dan semesta. Bebas, lepas seolah mampu meninggalkan bumi sebagai sarang beban.

Duhai lelaki penerbang,

Jika waktu tak enggan menjodohkan kita dalam suatu pertemuan, janganlah segan mengundangku untuk terbang. Meskipun aku satu-satunya perempuan diantara kalian.

 

Tertanda,

Perempuan yang lelah menapak bumi