Tags

pecinta-diksi

Aku tak tahu apakah sebenarnya surat ini layak kutulis.  Setelah menimbang-nimbang dengan bimbang, kuputuskan untuk menulisnya.

Dear para penulis,

Pernahkah kalian bertemu dengan musuh besar bagi seorang penulis yang mampu menghambat tulisannya?

Jika belum, aku ingin berbagi sosok seperti apakah musuh itu melalui surat ini. Dia bukan “Malas” yang sering dibicarakan oleh penulis-penulis lain. Ya! “Malas” memang menjadi salah satu momok bagi para penulis, tetapi ada musuh yang lebih besar dari pada sekedar rasa “Malas”. Sosok itu bernama “Ekspektasi”.

Jika “Malas” membuat kita enggan untuk memulai sebuah tulisan atau merampungkan sebuah tulisan. “Ekspektasi” memberi efek virus yang berbeda. Ekspektasi mampu membuat imajimu mati dan niat untuk menulis lumpuh seketika. Ekspektasi adalah virus yang mematikan bagi para penulis. Mengapa? Menulis yang seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan, seketika berubah menjadi kegiatan yang memuakkan. Sebelum mengenal ekspektasi kita mampu menulis apa saja yang ingin kita tuliskan. Mendeskripsi apa yang ada dalam imaji menjadi sebuah karya yang mampu dibaca. Tetapi dengan adanya virus ekspektasi, kita menjadi terlalu khawatir akan tulisan kita. Terlebih lagi jika kau berhasil menelurkan sebuah buku, biasanya karya selanjutnya dibebankan ekspektasi jauh lebih besar oleh diri. Contohnya ekspektasi  seperti ini :

Tulisanku harus lebih bagus dari A!

Tulisanku harus menang dalam lomba B!

Tulisanku harus membuat pengarangnya terlihat sangat smart

Dan sederet keharusan akan tulisan lainnya …

 

Yang nantinya mampu menimbulkan kekhawatiran seperti ini;

Bagimana jika tak ada orang yang mau baca tulisanku?

Bagimana jika aku tidak bisa lebih baik dari penulis A, B atau C?

Bagimana jika penjualan bukuku tidak laris?

Dan bagaimana jika seterusnya …

 

Kepada para pecinta diksi,

Tanpa disadari, musuh terbesar seorang penulis adalah besarnya EKSPEKTASI yang dibebankan pada diri mereka sendiri. Menulislah karena memang kau senang menulis. Menulislah karena kecintaanmu merangkai diksi. Menulislah untuk menuruti kehendak imaji dan hati. Bersenang- senanglah dengan imaji dan tulisanmu, tanpa harus ada ekspektasi.

 

 

Tertanda,

Penggemar diksi yang pernah terjerat EKSPEKTASI