Tags

, , , ,

hug-sad-couple-love-sunset(c) itiswrittenforyou.com

Mereka bilang cinta tak harus memiliki. Mereka bilang cinta itu merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Sayangnya aku tak pernah sepakat dengan hal itu. Bukannya sinis atau tak romantis tetapi bagiku cinta harus saling memilki. Saling memberi dan mengasihi. Bukan cinta namanya jika ia hanya mampu mengagumi tanpa memiliki.

Sama halnya rasa cintaku pada Arka, aku ingin mencintai Arka dengan utuh. Termiliki dan tak ingin terbagi. Aku menyukai aroma tubuh Arka yang tak pernah absen terbalut police parfume. Aku menyukai rambut jabrik Arka yang klimis dalam lapisan gel. Aku menyukai kaki jenjang Arka dalam balutan skinny jenas berwarna hitam. Terlebih lagi aku sangat menyukai dada bidang Arka yang membuatku ingin lama-lama bersandar. Aku mencintai segala kemelekatan yang ada pada tubuhnya.

Saat malam mulai menyelimuti langit, aku suka bersandar di dada Arka di atas tempat tidur berseprei putih tak jauh dari jendela balkon. Di sana aku bisa bersandar pada dada bidangnya sembari menikmati keindahan lampu kota yang tak lelah berkelip. Jika moment ini tiba aku tak ingin apapun lagi. Aku hanya ingin waktu berhenti.

Seperti malam-malam sebelumnya, Arka akan singgah di apartemenku sepulang kerja. Menikmati secangkir kopi di beranda. Berbincang tentang pekerjaan berat yang membuatnya sering penat dan aku akan duduk disampingnya, setia mendengar sambil sesekali menepuk-nepuk pundaknya. Aku merasa ada yang berbeda sore ini dengan sikapnya. Biasanya Arka akan dengan mudah mengumpat jika penat, namun sore ini ia lebih banyak diam.

“Riani, besok dan hari-hari setelahnya aku tak bisa lagi menemuimu di sini.” Ia bicara tanpa menatap wajahku.

“Berarti kita masih bisa bertemu di tempat lain, begitu?” Aku beranjak dari tempat dudukku, melangkah padanya sembari berlutut dan menatap matanya lekat-lekat dengan ekspresi bingung.

“Bukan Riani, bukan! Dengar! Mulai besok dan hari-hari setelah besok kau tak perlu lagi menungguku pulang dari kantor. Kau tak perlu menyiapkan secangkir kopi. Kau tak perlu bertemu lagi denganku Riani.” Ia meletakkan kedua tangannya di wajahku, berusaha untuk meyakinkan. Wajahnya frustasi.

“Kita pernah membahas ini sebelumnya Arka. Bukankah saat menikah istrimu sudah berjanji untuk mengijinkanmu bersamaku satu jam saja sepulang kerja? Hanya satu jam selama lima hari. Itupun jika kau tak harus pulang cepat karena anakmu sakit.” Sekuat tenaga aku menahan bulir-bulir air mata jatuh dari pelupuk mata.

Aku ingat betul Arka, tahun lalu saat kau memutuskan untuk menikahi Lita dan berpisah dariku. Jika bukan karena Lita telah lebih dulu hamil karenamu, pasti saat itu kau akan menikahiku. Kau harus menikahi Lita meskipun aku tahu kau amat mencintaiku. Dan aku bisa apa? Merelakanmu adalah satu-satunya jalan yang harus kutempuh, namun dengan satu syarat yang kuajukan pada Lita; setidaknya aku bisa bertemu denganmu barang satu jam saja setiap pulang kantor. Saat libur kantor kau bisa dengan bebas bercumbu dengan istri dan anakmu.

“Kau ingin mengakhiri perjanjian ini secara sepihak Arka? Bukankah dulu kau juga yang menginginkan perjanjian itu dengan Lita?” Bulir-bulir air mataku masih berhasil kutahan, aku berhasil tidak menangis. Namun ngilunya hatiku tak sanggup lagi kutahan, rasa sakit ini ingin seolah ingin meledakkan diriku. Cinta yang kupunya perlahan sirna.

BANGSAT! Kini kau hanya bisa diam, tak satupun kata keluar dari mulutmu. Setelah dua tahun lalu selalu memujaku dan tak ingin lepas dari hidupku, kini seenak hati kau membuangku. Bodohnnya aku yang tak henti meyakinkan diri tentang besarnya rasa yang kau punya untukku.

PLAKKK! Tamparan itu seketika mendarat di pipimu. Logika tak lagi sanggup membendung murka. Kau mulai menangis, aku benci air mata itu. Kualihkan pandangnku dari wajahmu. Wajah yang selalu tampak tenang tetapi penuh dengan kebohongan.

“Tolonglah Riani, kau tahu kalau aku tak pernah bisa memilih diantara kalian. Kau tau betapa cintanya aku padamu. Kau tahu itu!” Ia merengek sambil mengguncang-guncang tubuhku, membenamkan wajahnya dalam pelukanku.

Aku memejamkan mata, merasakan luka sekaligus murka. Dari sekian jam yang kau miliki, aku hanya ingin satu jam dimana aku dengan bebas bisa bersandar di dada bidangmu. Tapi kau malah …

PRANGGGGG! Tanganku berhasil menimpuk kepalanya dengan asbak. Sekali…dua kali…berkali kali kulayangkan timpukan itu ke kepalanya sampai kurasakan cengkeramanmu mulai longgar. Tanganmu terkulai lemas, tubuhmu terhempas ke sofa tanpa tenaga. Sofa yang telah berubah warna menjadi merah darah

Arka..Arka…kini kau tak perlu lagi takut pada Lita. Aku tak perlu lagi berbagi ragamu dengannya. Aku bisa leluasa bersandar di dada bidangmu tanpa harus khawatir pada waktu. Sebentar lagi kau akan manjadi milikku seorang, karena aku sudah menyiapkan peti dan formalin untukmu.

 

Teras Singgahku, 1 Mei 2014

05.02 pm – 7.42 pm