Tags

, , ,

Pernah kusimpan jauh rasa ini,

Berdua jalani cerita

Kau ciptakan mimpiku. . .

 

Lirik demi lirik lagu Kanaya nyanyikan berkejaran dengan ingatan. Ingatan akan sebuah kenangan yang harusnya ia pendam dalam-dalam. Kafe itu sudah penuh oleh pasangan yang ingin malam mingguan. Hanya dia yang duduk dipanggung sendirian ditemani kenangan sang mantan.

 

Sekuat tenaga ia tahan butiran air mata itu jatuh dari kedua pelupuk matanya. Air mata yang dulu pasti akan Wira seka ketika Ayahnya tak lagi betah tinggal di rumah. Ketika ia merindukan ibunya yang pasrah melihat ayahnya dengan wanita lain. Ketika ia merasa kesepian dan membutuhkan sebuah pelukan.

 

Pahit yang Kanaya rasa akibat luka justru membawa nikmat. Kanaya yang kesepian menemukan seorang Wira sang petualang. Ia tak perduli lagi apakah ayahnya akan pulang ke rumah atau tidak. Hampir seluruh waktunya dihabiskan bersama Wira. Wira yang menciptakan dunia baru bagi Kanaya. Sebuah dunia yang selama ini Kanaya impikan. Diberikanlah seluruh hatinya untuk Wira. Lelaki yang berhasil membawa alam mimpinya menjadi nyata. Hidupnya tak lagi melulu tentang kampus, mall, atau rumah. Bersama Wira ia mampu melakukan apapun. Menjelajah pantai dengan motor gagahnya, menghabiskan weekend untuk mendaki gunung, berkebun saat matahari bersahabat, atau hanya duduk diberanda sembari menikmati senja. Ia merasa hidupnya sungguh berwarna.

 

Kau tinggalkan mimpiku

Namun ku hanya sesalkan diriku
Ku harus melepaskanmu

Melupakan senyummu. . .

 

Butir-butir air matanya jatuh perlahan. Kekuatannya untuk menehan butir-butir air matanya runtuh bersamaan dengan menguaknya luka tentang Wira. Wira yang dulu adalah mimpinya. Wira yang dulu membuat hidupnya berwarna. Wira yang sempurna dimata Kanaya kini telah tiada. Ia pergi meninggalkan Kanaya untuk menikahi gadis bernama Putri. Gadis Bali yang lebih dulu telah ia hamili.

 

Semua tentangmu tentangku, Hanya harap

Jauh ku jauh mimpiku, dengan inginku. . .

 

Kanaya terus bernyanyi diiringi denting piano. Pandangannya menyapu seluruh sudut café yang penuh dengan para pasangan. Tiba-tiba tubuhnya menegang. Pandangannya terhenti pada sosok seorang lelaki berjaket kulit di sudut ruangan. Lelaki itu duduk sendiri ditemani secangkir kopi. Mata Kanaya dan lelaki itu saling bertemu. Lelaki itu tersenyum padanya. Ada rasa yang bergemuruh didada Kanaya.

 

Setelah menyelesaikan lagunya ia cepat-cepat pergi ke ruang ganti. Mengganti gaunnya dengan jeans dan blouse merah jambu. Ia tak ingin kehilangan jejak lelaki itu lagi. Ia ingin sekali bicara padanya meskipun luka telah bersarang di dadanya. Langkahnya terhenti di depan meja itu. Kanaya tak menemukan lelaki itu, ia hanya menemukan sebuah kertas dengan tulisan tangan disamping cangkir kopi yang telah kosong.

 

“Maaf untuk luka yang telah kutoreh terlalu dalam.

Terima kasih Kanaya, darimu aku belajar bahwa cinta yang

tulus itu nyata. Lupakan aku, ijinkan lelaki melukis pelangi

dalam lembar baru kisah hidupmu.”

                                                                                                Love, Wira