Jika Bumi Bisa Bicara

Tags

, ,

BgV7xokIgAAOs0T

Seandainya bumi bisa bicara, hutan gundul pasti meraung karena kering. Pohon-pohon hijau pasti menangis karena terkikis lahan pertokoan. Sungai meringis karena airnya tak lagi jernih tercemar sampah yang terbuang sembarangan. Udara tersendat polusi yang mulai membasi, Seandainya bumi bisa bicara, bumi pasti menjerit karena sakit.

“Manusia, di mana lagi kita akan tinggal jika bumi sudah tak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk disinggahi ? Masihkah kita kuasa untuk merusak alam yang tersisa ?”

Advertisements

Pendaran Cahaya

Tags

, , , ,

seberkas cahaya

Pendaran cahaya itu hanya ungkapan, bagi hatimu yang bagai dewi, bagi cinta kasihmu yang tulus murni.

Pandaran cahaya itu hanya tulisan, refleksi dari rasamu yang kaya warna.

Rasaku hanya pantulkan dari warna yang ku serap sepanjang perjalanan, mejikuhibiniu semua tentang kamu.

Rasa kita seperti pelangi, memberi warna langit yang setengah murung karena mentari tak kunjung menyinari.

Pelangi, cahaya melengkung berkaki. Seperti gerimis yang diurai mentari, air basahi pelupuk dan aku yang butuh kau peluk.

Kita berpelukan dalam diam, mencari ketenangan dalam hingar bingar sunyi malam.

Aku lebih memilih diam dalam pelukan ketimbang berpelukan dalam diam.

Aku lebih memilih diam dalam pelukan ketimbang berpelukan dalam diam

Untuk tertidur dalam hangat dekapan dan jangan kau bangunkan sebelum aku kenyang.

Jika kau mau tertidur dalam dekapan, kuingin pelukan yang mendamaikan. jangan lepaskan sampai kumampu berdiri tanpa sandaran.

Untukmu, akan aku lakukan…

feat @pocongrainbow10’07’13

Sebuah “EKSPEKTASI” Bagi Pecinta Diksi

Tags

pecinta-diksi

Aku tak tahu apakah sebenarnya surat ini layak kutulis.  Setelah menimbang-nimbang dengan bimbang, kuputuskan untuk menulisnya.

Dear para penulis,

Pernahkah kalian bertemu dengan musuh besar bagi seorang penulis yang mampu menghambat tulisannya?

Jika belum, aku ingin berbagi sosok seperti apakah musuh itu melalui surat ini. Dia bukan “Malas” yang sering dibicarakan oleh penulis-penulis lain. Ya! “Malas” memang menjadi salah satu momok bagi para penulis, tetapi ada musuh yang lebih besar dari pada sekedar rasa “Malas”. Sosok itu bernama “Ekspektasi”.

Jika “Malas” membuat kita enggan untuk memulai sebuah tulisan atau merampungkan sebuah tulisan. “Ekspektasi” memberi efek virus yang berbeda. Ekspektasi mampu membuat imajimu mati dan niat untuk menulis lumpuh seketika. Ekspektasi adalah virus yang mematikan bagi para penulis. Mengapa? Menulis yang seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan, seketika berubah menjadi kegiatan yang memuakkan. Sebelum mengenal ekspektasi kita mampu menulis apa saja yang ingin kita tuliskan. Mendeskripsi apa yang ada dalam imaji menjadi sebuah karya yang mampu dibaca. Tetapi dengan adanya virus ekspektasi, kita menjadi terlalu khawatir akan tulisan kita. Terlebih lagi jika kau berhasil menelurkan sebuah buku, biasanya karya selanjutnya dibebankan ekspektasi jauh lebih besar oleh diri. Contohnya ekspektasi  seperti ini :

Tulisanku harus lebih bagus dari A!

Tulisanku harus menang dalam lomba B!

Tulisanku harus membuat pengarangnya terlihat sangat smart

Dan sederet keharusan akan tulisan lainnya …

 

Yang nantinya mampu menimbulkan kekhawatiran seperti ini;

Bagimana jika tak ada orang yang mau baca tulisanku?

Bagimana jika aku tidak bisa lebih baik dari penulis A, B atau C?

Bagimana jika penjualan bukuku tidak laris?

Dan bagaimana jika seterusnya …

 

Kepada para pecinta diksi,

Tanpa disadari, musuh terbesar seorang penulis adalah besarnya EKSPEKTASI yang dibebankan pada diri mereka sendiri. Menulislah karena memang kau senang menulis. Menulislah karena kecintaanmu merangkai diksi. Menulislah untuk menuruti kehendak imaji dan hati. Bersenang- senanglah dengan imaji dan tulisanmu, tanpa harus ada ekspektasi.

 

 

Tertanda,

Penggemar diksi yang pernah terjerat EKSPEKTASI

Kepada Lelaki Penerbang

Tags

PicsArt_1392112929544

Tinggal lima orang yang tersisa, dan dia adalah satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu-satunya perempuan yang hadir diantara lelaki. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan sebagai pusat perhatian. Namun mereka malas memperhatikan, karena sejak tadi kujuga tak berniat memulai perkenalan. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dia yang bukan hanya sebatas objek menarik, melainkan sebuah makhluk yang membuat lensa ini tak pernah berhenti membidik.

Tak pernah ada ajakan untuk terbang darinya, hanya ada senyum ramah saat kita tak sengaja saling berpapasan. Ada keengganan darinya untuk memulai perkenalan. Itulah mengapa ia berusaha menyapaku lewat senyum dibalik lensa.

Bendera penanda angin melambai gemulai, pertanda semesta merestui mereka untuk terbang. Dia bersorak riang sembari membentangkan parasutnya. Mentari menyapa lebih manis, teriknya tersamarkan oleh awan yang saling bergandengan. Menyatu biru bersama langit sore.

 

1 . . . 2 . . . 3 . . . HUP!

Dia melompat ke angkasa, meninggalkan pijakan kakinya dari bumi.

 

Hai laki-laki penerbang,

Bagaimana rasanya menikmati udara bebas di atas sana?

Bagaimana rasanya melihat bumi dari sisi yang berbeda?

Sedari kecil kita tak pernah lepas dari keinginan untuk terbang. Seperti burung yang melayang-layang di angkasa. Merasakan desiran angin yang menerpa kulit dalam kesunyian. Hanya kita dan semesta. Bebas, lepas seolah mampu meninggalkan bumi sebagai sarang beban.

Duhai lelaki penerbang,

Jika waktu tak enggan menjodohkan kita dalam suatu pertemuan, janganlah segan mengundangku untuk terbang. Meskipun aku satu-satunya perempuan diantara kalian.

 

Tertanda,

Perempuan yang lelah menapak bumi

Penuh Cinta, Namun Sering Terlupa

Tags

6656890071155707082owBtvZc(c) indulgy.com

Maaf…

Mungkin kata itu masih kurang layak meski telah terucap beribu-ribu kali dari bibirku, kepada sosok wanita paruh baya berkulit putih, berwajah ceria dengan senyum yang selalu terbingkai diparas ayunya. Wanita yang tak pernah memiliki cukup waktu untuk dirinya, karena besarnya kasih yang ia beri untukku. Wanita itu adalah… Ibu.

 ***

Juni, Malang

Selama 2 bulan ini Eric ditugaskan di Manado, menggantikan kepala cabang di sana. Saat itu bertepatan dengan hari liburku. Ia memberiku tiket pulang pergi untuk berlibur di sana. Disamping aku suka travelling, tujuanku ke Manado adalah membicarakan hal penting yang menentukan masa depanku dengan Eric.

Pagi itu aku memberanikan diri untuk mengatakan tentang rencana kepergianku pada Ibu. Mendapat hadiah tiket liburan dari lomba menulis kugunakan sebagai alasan kepergianku ke Manado. Aku menduga Ibu akan susah untuk mengijinkan, aku tahu bahwa Ibu tipikal orang yang berat untuk melepaskan anak perempuannya sendiri ke tempat yang jauh. Wajar, karena aku anak semata wayang dan saat melahirkanku dulu kondisi Ibu sangat kritis. Namun ternyata untuk kali ini aku mendapatkan ijin Ibu dengan mudah. It’s unpredictable!

 ***

Juli, Manado

Hari pertama dan kedua di sini kuhabiskan dengan menyusuri keindahan kota beserta wisata alamnya yang menajubkan. Menjamah Bunaken, menikmati senja di Boulevard, dan mencoba makanan khas Manado. Banyak inspirasi saling berebut untuk dapat bersemayam dalam rumah imajiku. Rasa bahagia itu tak terdeskripsikan. Eric, ia selalu bisa membuatku sebahagia ini. Namun sejak hari pertama kehadiranku disini, aku merasa ada yang janggal darinya. Raganya bersamaku, tetapi tidak dengan jiwanya.

Ini adalah malam terakhir yang akan kuhabiskan di Manado. Aku makan malam besama Eric di Boulevard. Berbekal rasa penasaran kuberanikan diri untuk membuka BB miliknya, saat Eric sedang pergi ke toilet. Entah mengapa aku sama sekali tak tertarik untuk membuka isi kontak atau percakapan di BBM-nya. Pusat perhatianku tertuju pada gallery, karena aku ingin tahu foto apa saja yang ia simpan selama ini.

Ada yang menarik, folder dengan nama romantic rhapsody. “What is that ?” Hasratku dipenuhi rasa penasaran. Begitu kubuka isinya, seketika itu juga hatiku kelu sekaligus pilu. Hampir seluruh isinya adalah foto-foto Eric bersama Mey, mantan kekasihnya. Bukan foto-foto biasa, melainkan foto saat mereka beradu nafsu diatas ranjang.

“Apa makna dari Romantic Rhapsody ini ?” Aku bertanya pada Eric dengan wajah merah padam.

“Oh…aku memang masih berhubungan dengan Mey. Tak ada salahnya kan berhubungan baik dengan mantan pacar.”

Aku tahu dia berusaha mengelak, mencari alasan untuk menutupi kesalahan diri. Aku hanya diam, menunggu jawaban yang pantas kudengarkan.

“Jadi?” Masih dengan nada datar, menahan amarah.

“Kamu dengan Mey adalah orang yang berbeda, aku tak pernah membandingkan kalian berdua. Aku tak pernah memberi komitmen apapun denganmu atau Mey. Aku hanya menjalankan apa yang harus ku jalankan.”

“BAH..!!! Menjalankan apa? Mencari kenikmatan dari dua perempuan sekaligus?” Eric hanya terdiam, tak ada keberanian menatap wajahku.

“Cukup Eric! Kalau selama ini hubungan yang kau ingin seperti ini. Sudah saatnya aku harus pergi.”

Kalut, dadaku sesak, dan seketika itu pula yakinku padanya runtuh. Roda kenyataan tak berjalan sesuai dengan harapan. Keraguan Ibu padanya selama ini terbuktikan oleh realitas yang dihadapkan Tuhan pada diriku. Jika selama ini aku meyakini jika dia adalah yang terbaik, ternyata aku salah.

 ***

Juli, Malang

Kepada wanita yang telah memberiku kehidupan, Ibu. Kuucap maaf untuk tak banyak mendengarmu tentang keraguanmu terhadap lelaki yang kucintai. Maaf untuk benci yang terkadang muncul saat kau meragukan lelaki pilihanku. Maaf untuk kata pedas yang terucap saat perdebatan-perdebatan  kita. Maaf untuk banyaknya kebohongan yang kubuat padamu demi Eric. Maaf untuk air mata yang sering membasahi kedua kelopak matamu karena luka hati yang telah kubuat. Yang terberat dan terbesar, maaf…maaf…maaf… untuk pernah mengesampingkanmu untuk lelaki yang sesungguhnya tak layak untuk masa depanku.

Ibu, kutahu air mataku tak akan mampu menebus segalanya. Namun yang kutahu, tak ada kebesaran hati yang mampu mengalahkan kebesaran hatimu untuk selalu memaafkan kesalahan putrimu dan akan selalu memberi pelukan hangat untuk air mata kepedihan yang tak sanggup ia bendung.

 

Kepada kita yang seringnya lebih memilih lelaki dibanding Ibu sendiri,

Satu-satunya wanita yang penuh cinta namun sering kita lupa cintanya adalah Ibu.

 

Tertanda,

Putrimu, yang tak cukup kasih untuk membalas bejana kasih sayangmu..

Senja dan Kita Yang Ditinggalkan

Tags

pesan-sang-senja

Senja ialah wajah langit yang sedang merona. Merona karena petang akan segera datang mencumbu siang. Sayang bagiku senja bukanlah potret rona bahagia, melainkan potret rona luka yang kian hari kian menganga.

Seperti hari-hari sebelumnya, kau tak pernah alpha duduk termenung di bebatuan pantai ini. Kupandangi wajahmu yang muram. Matamu tampak semakin kelam, pertanda masih menyimpan kesedihan. Kemudian perlahan butir-butir air mata jatuh membasahi pipimu. Kau mulai terisak, membuat dadaku makin sesak.

Kekasih, andai kau bisa membaca pesan ini. Pesan yang kusampaikan pada wajah senja. Pesan yang kuharap tak lagi membuatmu menanti dalam sendiri. Entah dengan cara dan bahasa apa pesan ini mampu kusampaikan. Bahasa yang kutahu hanyalah bahasa rasa. Kupandang parasmu tanpa perlu menatap. Kudengar isak tangismu tanpa perlu terlinga. Aku selalu ada tanpa perlu raga. Sayangnya aku hanya mampu mencintaimu dalam bisikan, seperti deru sepoi angin yang menggetarkan dedaunan.

Kekasih, kuharap pesan ini lekas tiba, saat awan mulai melukis rona merah di langit, akulah senja yang memandangmu lekat. Akulah petang yang bercumbu dengan siang, tak pernah alpha dampingimu dalam tangisan.

Maafkan aku yang memilih pergi, sebab Tuhan telah merenggut nyawaku tanpa permisi.”

 

Kepada kita yang pernah ditinggalkan, Kenangan adalah sebaik-baik hadiah bagi kita yang telah ditinggalkan.

 

Tertanda,

Perempuan yang pernah ditinggalkan

Jogjakarta, Sang Belahan Jiwa

Tags

Jogjakarta

“Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi

Saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama

Suasana Jogja”

Lagu ini tak pernah bosan kudendangkan atau sekedar kudengarkan. Entah saat ramai atau saat sunyi mulai menghampiri.

Hai Jogja,

Tempat yang selalu membuatku ingin kembali, nikmati indahnya panorama kota tua. Tiap sudutmu selalu menyambutkuu dengan ramah, sapa kaki lima, alunan musik musisi jalanan, dan denting bel tukang becak. JIka kau memintaku kembali ke kotamu, detik itu juga aku akan dengan senang hati mengemas ransel dan kamera untuk terbang menemuimui. Sayang, realita tak selalu ramah dengan keinginan. Ada hal-hal yang tak mampu kutinggalkan di sini, Membuatku tak bisa setiap saat menjengukmu meski hatiku teramat rindu.

Sejak kecil aku tumbuh bersama melankolimu. Itulah mengapa lahir sebuah mimpi dimana aku ingin bisa menetap Jogja. Umurku delapan belas waktu itu, mimpi yang kudamba sudah di depan mata. Ya, aku akan menetap di Jogja. Sayang seribu sayang, mimpi yang satu-satunya kuingini sejak dini harus sirna termakan realita. Restu untuk menetap dikotamu tak kudapatkan dari Ibu. Malang – Jogjakarta, Ibu tak ingin putri semata wayangnya ini melupa untuk pulang karena terlalu cinta denganmu.

Kepada Jogja, kota yang telah menjadi belahan jiwa.

Kau pernah menjadi saksi sebuah hati telah tersakiti, pun demikian kaulah yang mengembalikan serpihan hati utuh kembali. Kaulah saksi bisu sebuah hati yang mati mampu mencintai kembali. Andai kau bisa membaca surat ini entah dengan cara atau bahasa apa, kuingin kau tahu akulah wanita yang tak lelah menuliskanmu dalam sebuah cerita.

Tertanda,

Perempuan yang tak lagi bisa bebas menyapamu sewaktu-waktu

Teras Singgahku – Malang

Imaji Dalam Secangkir Kopi

Tags

kopi-pagi

Aku percaya setiap kita pasti memiliki imaji. Imaji yang terkadang tertuang dalam sebuah cerita, prosa atau lukisan. Imaji juga mempu menjelma menjadi sebuah harapan yang selalu kita impikan menjadi kenyataan.

Bagiku, cerita atau prosa adalah anak yang lahir dari sebuah imaji. Namun sayang tak selamanya imaji itu mudah diproduksi. Kadang imaji mampu menjelma menjadi ilusi yang hanya kita ingini. Itulah mengapa aku mencintai kopi.

Kepada kopi yang tak pernah absen kuseduh setiap pagi,

Aku ingin kau baca surat ini, jikalau itu tak mungkin setidaknya kuyakin kau mampu merasa. Aku selalu suka aroma sedapmu yang menenangkan. Aroma ketika serbuk-serbuk coklat pekatmu merintih dalam sembilan puluh enam derajat celcius panas air. Saat panas air membuatmu merintih, saat itulah kau berubah menjadi minuman coklat pekat yang nikmat. Aku mampu menegukmu bercengkir-cangkir setiap hari. Kau adalah candu bagiku.

Science membuktikan kopi mampu meningkatkan produktifitas dalam pekerja, sementara kedokteran mengatakan kopi tak baik bagi jantung dan lambung. Aku tak perduli keduanya, yang kutahu saat imaji mulai sulit untuk diproduksi, menyeduhmu adalah satu-satunya cara yang mampu merangsang hasrat imaji. Saat imaji mulai mati, menegukmu adalah satu-satunya cara penawar frustasi.

Kepada kopi yang membuat imaji tak pernah mati,

Saat tiba masa aku tak mampu menegukmu lagi, beri aku waktu hanya untuk menghirup aromamu dikala pagi.

Tertanda,

Pecandu yang tak lagi mampu meneguk secangkir kopi.

Perkenalan, Awal Sebuah Pertemanan

Tags

header-akarpikiran1(c) iitsibarani.wordpress.com

Jika dulu berkenalan diharuskan untuk bertatap muka, mungkin aku tak pernah sanggup berkenalan denganmu. Begaimana dengan sekarang? Apakah aku telah sanggup berkenalan denganmu wahai perempuan berakar pikiran?

Aku rasa belum.

Rangkaian katamu menghantar secercah sinar mentari bagi wajah ceritaku yang sedang muram. Setelah sekian lama ceritaku mati rasa. Saat itulah kau hadir dalam bentuk aksara. Mengubah hampa menjadi bahagia.

Kepada perempuan berakar pikiran,

Aku hanya sebagian kecil dari ribuan pembaca setiamu. Mulanya mataku mengagumi paras ayumu, kemudian setelah kuselami kau lebih dalam, rasaku jatuh cinta pada aksaramu. Entah dari mana kau mampu meracik aksara menjadi rangkaian kata yang menggetarkan, yang kutahu tiap rangkaian katamu tak pernah absen dalam daftar rinduku. Rindu pada peramu aksara yang kaya akan metafora kata dan mampu mengetuk kerasnya jiwa. Di negeri tercinta ini aku begitu mencintai Dee, Djenar, dan Ayu. Mungkin kali ini mereka harus rela, bahwa cintaku pada mereka yang begitu besar harus kubagi sedikit untukmu.

Wahai perempuan berakar pikiran,

Dengan kerendahan hati aku meminta, bisakah kita berkenalan untuk mengawali sebuah pertemanan? Jika sekarang adalah satu-satunya waktu kita diijinkan untuk saling berbincang, hanya satu pesan yang ingin kusampaikan: Ijinkan aku membaca kisahmu dalam sebuah buku di suatu waktu.

Teras Singgahku – Malang, 4 Feb’ ’13

– cheyuanita

My “Only” Wedding Dream

Tags

, , ,

berbicara tentang pernikahan tak bisa dilepaskan dengan “modal nikah”. Menikah identik dengan biaya yang “mahal”. Orang di Indonesia sudah memiliki perspektif bahwa menikah butuh biaya yang banyak. Biaya untuk undangan, katering, baju pengantik, make up, dan serentetean biaya lain yang jika ditotal bisa digunakan untuk modal usaha ataupun biaya S2 :p Begitulah budaya menikah di Indoensia, butuh modal besar untuk melayani tamu. Tak jarang orang rela berhutang untuk menjalankan sebuah resepsi.

Sejak dulu aku sudah memiliki pernikahan impian, Bukankah memang setiap wanita memiliki pernikahan impiannya sendiri? well, pernikahan impianku sederhana. Berbekal dari suka dengan hal-hal simple yang tidak rumit aku menyukai pernikahan Western Style, pernikahan ala barat yang biasanya ada di film-film romantis. Di mana mempelai wanita memakai baju putih dengan model sederhana tetapi tetap anggun. Rambut disanggul simple dangan make up senatural mungkin. Untuk acara pernikahan aku hanya ingin mengundang orang-orang terdekatku, yang selama ini benar-benar bisa kuajak untuk berbagi duka dan bahagia. Seperti halnya di barat, biasanya acara pernikahan dilakukan di gereja, kemudian makan atau pesta halaman rumah sendiri bersama orang-orang terdekat. Akupun juga ingin seperti itu, setelah melakukan akad nikah, resepsi tak perlu mengundang orang banyak tetapi hanya teman-teman dekat, kita bisa makan, saling bercerita dan foto-foto bersama. Sederhana tetapi bermakna. Kira-kira seperti inilah gambaran wedding impianku 😀

rusticweddingideas1ceremony_site

source : http://www.weddingchicks.com/2012/09/27/vintage-garden-peach-wedding-ideas/

Tapi….semua impian ini musnah ketika dihadapkan pada realita budaya pernikahan di Indonesia. Memang yang akan menikah aku dan pasanganku, tetapi kami memiliki keluarga yang juga ikut andil dalam pernikahan ini. dan nyatanya menyatukan antara keinginan kami dan dua keluarga itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika keluarga masing-masing masih kental dengan budaya yang ada.

Belum lagi jika ada gengsi “nanti kata tetangga gini, nanti kalau nggak ngundang itu jadi bahan omongan, nanti kelurga jadi dimusuhi temen atau tetangga” eerrr….suka gerah juga dengan statement ini. Ada saat kita harus mengikuti dan mendengarkan apa kata orang, ada kalanya kita hanya cukup mendengar kemudian mengabaikan. Atas nama gengsi nikah menjadi MAHAL. Bukan lagi makna nikah yang diutamakan tetapi sederet kepentingan resepsi yang menelan biaya puluhan juta. Akupun mulai memahami dan sangat menyetujui pernyataan “Bukan nikahnya yang mahal, tetapi gengsinya!”

Karena sesungguhnya bukan hanya nikahnya yang penting, tp jauh lebih penting bagaimana kita menjalani hidup setelah menikah 🙂